Saturday, March 8, 2014

Terlindungkan



Gelora amukan rahmat sang baskara menelus setiap koyak kain kanopi. Riuh tanda meriah pasar itu.

Meski dalam keriuhan, ada sayup kedengaran, "Khabar baik!!"

Semua pasang mata tertoleh dek bising dari kejauhan. Jarak tak membataskan penglihatan para mata untuk meneliti senyum lebar yang terkoyak di bibir pemuda yang sedang berlari ke mari itu.

Mengah kelenjar merembes keringat. Tak sempat terhelakan nafas, tangki paru-paru seakan merayu meminta dicukupkan. Digagahi. Ada berita gembira yang setiap para hati ada hak keatasnya.

"Khabar baik..." Cungap nafas menghalang bait seterusnya dilafazkan, "...dari langit Ilahi!"



Jarang, atau lebih tepat, tidak pernah saya nukilkan perkara sebegini.

Yang saya faham, ummah perlukan ini. Dan setiap hal berhak diserahkan pada ahli. Saya bukan ahli, cuma menyampaikan apa yang ahli nukilkan.

Dalam buku, Agar Bidadari Cemburu Padamu, Salim A. Fillah ada menyenaraikan apa yang Syaikh Nashiruddin ibn Nuh Al Albani rincikan sebagai syarat pakaian syar'i buat muslimah.
1. Menutup dan melindungi seluruh tubuh, selain yang dikecualikan.
2. Tidak tabarruj.
3. Kainnya tebal.
4. Kainnya longgar, tidak sempit dan tidak jatuh.
5. Tidak diberi wangian.
6. Tidak menyerupai pakaian lelaki.
7. Tidak menyerupai pakaian kafir.
8. Bukan Libasusy Syuhrah - pakaian yang menampilkan populariti.



"...dan hendaklah mereka menutup belahan leher baju mereka dengan tudung kepala mereka."
[AnNur, 31]



Ada yang mencarik kain kanopi. Tidak kurang yang menarik kain langsir sama.

Bukan sahaja Kaum Hawa, Adam turut serta sama. Ditanggalkan pakaian yang tersauk pada badan, semata-mata menurut perintah agung darIi langit.

Kekalutan yang teramat. Mengalahkan riuh pasar sepanjang pagi.

Tapi, para hati itu tahu, kepingan-kepingan firman agung dari langit itu takkan pernah membebankan.

[Terlindungkan]
Habiburrahim

Tuesday, March 4, 2014

Quad



“You look…” Wawa angkat wajah dari bekas polisterina ke wajah yang bertanya. Josiah meletakkan bekas plastik berhadapan dengan Wawa. “…different.”

“I take that as a compliment.” Wawa senyum segaris.

“Are you having some kind of celebration or something?” suasana di Quad semakin kecoh di kala tengahari ini.

“Nahh, I was just thinking of having some changes.”

“For worst or better?”

“It depends on the eye of the beholder.” Wawa jungkit bahu.

“I’d say, you look way better.”

Wawa senyum. See..dia orang sangat supportive.

Josiah menyelamkan garpu ke dalam mangkuk mee. Mee yang terlekat disuakan ke mulut.

“Why is it necessary for you guys to wear hijab anyway?” Josiah ikhlas bertanya. “No offense by the way.”

Wawa garu kepala dalam hati. “Well, I may not be the best one to say this, as I didn’t wear a hijab before.” Aduhhh… kalaulah Nadhiya ada... “I’ve come to realize the concept of hijab, it is actually one of the most fundamental aspects of women empowerment.”

Wawa masih memandang Josiah. Josiah masih juga menunggu penjelasan lanjutan.

“When I cover myself, I make it virtually impossible for people to judge me according to the way I look. I cannot be categorized because of my attractiveness or lack thereof.” Err..boleh terima ke mamat ni?

“For instance, people fancy those women with so-called perfect body, while those who are slightly unlucky are often expelled from the community. But I believe Islam has a better way to look at people. People can judge me from the way I want myself to be, from what I have to say, rather than how I look.” Tak ke sikit tak adil kalau dinilai dengan personaliti fisik?

Josiah angguk tanpa riak. Garpu lagi sekali disuap ke mulut. Mulutnya mengunyah lambat.

“Do you shower in that?”


[Quad]
Rather than playing the music
Why don't we try establishing a symphony instead?
Habiburrahim


Friday, February 21, 2014

Doa yang terlantun


Amarah Sang Tegas itu terkawal dek hikmahnya, tak terhambur terludah merata. Namun, langkahan kaki sedikit menghempas tempias amarah yang tertahan.


"Sekiranya aku berbuat demikian, begitulah juga apa yang dilakukan oleh orang yang besar hak engkau ke atasnya melebihi diri aku.”

"Siapakah dia?” "Saudara perempuanmu dan juga iparmu."


Bisik-bisik dari celahan rumah Bintu alKhattab itu meluapkan berang Sang Umar. Dia tahu benar, syair yang terdendang itu nyata syair Muhammad. Jengkel, Umar meluru ke dalam rumah adiknya.

"Apakah semuanya ini?"

Fatimah tahu benar, tindakan saudara lelakinya diluar batas waras akal. Masakan abangnya melulu dan bersandarkan emosi? Jujur, ada getar yang menyelinap hati kecilnya.

"Apakah engkau telah tinggalkan agama nenek moyangmu dan mengikut agama Muhammad?”

Dan bertubi-tubi soal selidik dihambur. Tidak cukup dengan itu, tangan kasar Sang Umar meramas rambut Fatimah. Ditampar berkali-kali memenangkan amarah semata.

Berkali iparnya menghalang, namun daya sang semut takkan pernah mampu menenteramkan angina sang gajah.

Jasad Fatimah yag terjelopok ditatap penuh marah. Cungap nafas terhembus, persis api radang yang berkeping-keping teruap.

Fatimah menggagahkan sokongan belakang tangan. Sebelah lagi tangan memegang kepala yang berdarah.  “Perbuatkanlah, kalau engkau sudah terpaksa.”

Malu. Runsing. Tindakannya melulu. Rasionalnya tercabar. Kisikan fitrah seorang abang Sang Umar singgah menggelayut. Perlahan, Umar melabuhkan riba, “Tunjukkanlah kitab itu kepada aku.”

“Kitab ini tak tersentuh mereka yang tidak bersih.”



Secara psikologikal, dapat dirumuskan afeksi para hati anak Adam itu terpengaruh dengan keadaan sekeliling.

Mari kita amati sebahagian daripada ayat yang menyentuh hati tegas Sang Umar,

“Ketika ia melihat api, lalu berkatalah ia kepada isterinya: "Berhentilah! Sesungguhnya aku ada melihat api semoga aku dapat membawa kepada kamu satu cucuhan daripadanya, atau aku dapat di tempat api itu: penunjuk jalan.
 Maka apabila ia sampai ke tempat api itu (kedengaran) ia diseru: ‘Wahai Musa! Sesungguhnya Aku Tuhanmu! Maka bukalah kasutmu, kerana engkau sekarang berada di Wadi Tuwa yang suci.
Dan Aku telah memilihmu menjadi Rasul maka dengarlah apa yang akan diwahyukan kepadamu. Sesungguhnya Akulah Allah; tiada tuhan melainkan Aku; oleh itu, sembahlah akan Daku, dan dirikanlah sembahyang untuk mengingati Daku.”
[Taha, 20 : 10-14]

Kisah Musa ini dekat dengan situasi yang dialami sahabat Rasulullah saw ini.

Jejak langkah Umar alKhattab ke rumah adiknya tidaklah terkebetulan sejajar dengan firman Allah akan jejak langkah Musa ke Lembah Tuwa.

Tidak cukup dengan itu, perintah al-Hikmah agar membuka sepatu kerana berada di lembah suci Tuwa bertepatan dengan suruhan adik kandungnya, Fatimah untuk menyucikan diri.

Akidah Islam membenarkan segala kejadian sebagai aturan Yang Maha Mengaturkan, bukan sekadar kebetulan. Dan hati getas Umar faham amat hakikat itu.

Aku telah memilihmu…”, terdeklamasi firmanNya, dan Umar mengerti langkahannya ke rumah Fatimah, tidak mungkin tidak, adalah kerana terpilinya dia sebagai Islam.

“Ya Allah muliakanlah Islam dengan salah satu dari dua Umar.”

Dan detik itu, doa yang terlantunkan menuju langit ini terkabul.

Setiap hati yang tersentuh itu, seharusnya memahami, detik hati terdetap dengan Islam, detik itu jua Allah telah memilih hati itu untuk memahami Islam.

“Aku telah memilihmu…”




“Di manakah Rasulullah saw?” lantunan intonasi Sang Tegas itu berganti amat.

“Baginda di rumah al-Arqam.”


[Doa yang terlantun]
Habiburrahim



Wednesday, February 19, 2014

Rusuk Kiri



Derap langkah menawaf keliling bilik itu ditambah laju. Mundar-mandir sambil bibir meludahkan seranah. Hitam padam mukanya.

Belum habis amarah terhambur pada isteri yang masih terbaring berdarah, sang bidan pula yang menjadi sasaran.

"Bodoh!"

Oktaf tangis sang bayi naik meninggi tatkala sang bapa mengherdik kasar penuh amarah. Gegendang telinga serasa pecah. Tangan meraup wajah semahunya. Geram. Cemas. Terbebani dengan malu yang bakal tertanggung. Kalau berkehendak, jasad penuh tenaga itu mampu membunuh tangis bayi itu dengan sekali pukulan.





"Selalu wasiatkan kebaikan kepada para wanita. Karena mereka diciptakan dari tulang rusuk, dan bagian yang paling bengkok dari jalinan tulang rusuk ialah rusuk bagian atas. Jika kalian paksa diri untuk meluruskannya, ia akan patah. Tetapi jika kalian mendiamkannya, ia akan kekal bengkok. Kerana itu, wasiatkanlah kebaikan kepada para wanita."
[HR Bukhari]

Terkadang hikmah manusia lantang memasang sangka, menafsir buruk wanita sebagai lemah. Bukan begitu tafsirannya. Bukan.

Kalimat-kalimat lantunan bibir Sang Rasul saw tersimpan hikmah yang tersendiri. 
Tersedia maklum, Allah bersumpah kerugian keatas mereka yang mengabaikan amal shalih, serta berpesan-pesan ke arah kebaikan mahupun kesabaran.

Islam mengangkat kedudukan wanita kepada jendelaan nasihat, jendelaan agama. Agama itu nasihat. Tak tersalah erti juga jika dikatakan nasihat itu adalah agama. Rasulullah menuntun kedudukan wanita bukan sahaja bertepi-tepian di majlis ilmu. Malah menyantuni dalam menasihat juga terlebih digalakkan.

Hadith ini disokong dengan pembelaan Allah terhadap para wanita. Begitu Allah membela wanita yang dicemuh, dihina dan dinoda ketika jahiliyyah sehinggakan terdeklarasi dalam firman kecamanNya,

"Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, hitamlah (merah padamlah) mukanya, dan dia sangat marah. Ia menyembunyikan dirinya dari orang banyak, disebabkan buruknya berita yang disampaikan kepadanya. Apakah dia akan memeliharanya dengan menanggung kehinaan ataukah akan menguburkannya ke dalam tanah (hidup-hidup) ? Ketahuilah, alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu."
[AnNahl, 16 : 58-59]

Malah, tidak terlebih berlengah menanti Hari Penggulungan Segala Amal untuk Allah mempersoalkan jahiliyyah Quraisy, dalam firmanNya,

"Dan apabila anak perempuan yang ditanam hidup-hidup, ditanya 'Dengan dosa apakah ia dibunuh?'
[atTakwir, 7-8]

Takjub saya, betapa Rasulullah memuliakan kaum wanita. Lagikan takjub apabila Allah tak terkecuali, menjadi contoh dalam pensyariatan ini. Subhanallah.




Peluh merintik laju menuruni alis. Bingung. Fikirannya bercampur baur. Menanggung malu atau memenangi bisikan fitrah. Jauh di sudut hati, bisikan fitrah masih memenangkan suara tangis bayi itu.

Sang bapa nekad. Persalinan serba daif dicapai. 
'Akanku kuburkan bayi perempuan ini.'

[Rusuk kiri]
Summer
Habiburahim




Tuesday, January 21, 2014

JALAN CINTA PARA PEJUANG VI

~Langkah Kedua: Dunia Kita Hari Ini

Where we are heading
I feel it would be no harm just to re-EMPHASIZE  on the basic understanding of each part of the book the writer intends to instill to the readers.

Langkah Pertama
Reading this part of the book helps you to comprehend the meaning behind that path of love; the path the fighters take for the love of their Lord and the love for this deen; unlike the broken, devastating and temporary love that is now amplified by youths these days, or even back in the past.

Langkah Kedua: Singgah Untuk Menaklukkan
You will find that this part of the book unfolds the secret behind creating a bigger impact in so little time and effort. The writer also defines the Age in which we are engaging in, in order for us to conquer and make changes towards it, as well as through time itself.

Langkah Kedua: Hujan dan Awan Saling Melupakan
This part of the book provides multiple perspectives belonging to the western orientalists regarding spirituality and  religion. These views depicting the behaviour of human beings have been purposely diverted to have an adaptation of animals, simply to defy the existence of religion and God in their findings.

ABC
ABC simply stands for; Abstinence, Be faithful and Condom. 
Abstinence movement was created by a group of american teenage girls who fought hard for the abstinence of committing sexual intercourse with men other than their future spouse. How did it start? Simply because they have already witnessed the pitfall of this awful practice that was once known to be "progressive" and "modern". 
Dear fighters of this righteous path, the world now needs to fight to get things right, to put a stop onto inhuman acts put to practice worldwide. The world needs Islam so badly, but they don't even know it... 

It is now easy to find libertarian who seek to find reasons to defy the commandments of Allah Subhana Wa Ta'ala  in the Qur'an and to defy the layouts of this beautiful deen of ours. Some others search to find Hikmah behind these commandments. Generally, the society has lost faith in Allah's commandments. They forgot how beautiful Allah has put His Creations to work. 
"Kamu diwajibkan berperang, sedang peperangan itu ialah perkara yang kamu benci; dan boleh jadi kamu benci kepada sesuatu padahal ia baik bagi kamu, dan boleh jadi kamu suka kepada sesuatu padahal ia baik bagi kamu. Dan (ingatlah), Allah jualah yang mengetahui, sedang kamu tidak mengetahuinya."
Al Baqarah (2:216) 

There is also a story of ABC written in a very famous novel called Les Miserables, involving a group of young men with very unique attributes who fought in a revolution that was heading for a downfall. 

This section of the chapter not only explains the movements caused by the ignorance of Allah's commandments, but also highlights  Pemuda, the young generation who are generally involved in these causes.

Lelaki Warna-warni
The writer tries to bring about the massive changes occurring in the world of men; from the appearance-conscious metrosexual  to the intellectual and societal-conscious ubersexual men.
"The world hopes more for young men who spend their time to read, enjoin in various courses, get up to date with the current issues, rather than  those who spend their time in the salon, do their hair, make their face or even patch-to-match and accessorise! The world hopes for young men of the future, young men who have deep concern with the surrounding, the stake of society, the verdict of mankind..." says Marian Salzman.

"Kelak, yang kita hadapi dalam perjuangan menegakkan agama ini mungkin bukan para metroseksual yang takut kuiltnya lecet, tapi mereka yang begitu teguh memegang prinsipnya namun belum mengenal bagaimana mentauhidkan Allah. Yang akan kita hadapi bukan para pria cengeng yang menangisi kuku tergores, tapi mereka yang kukuh karakternya meski tak dibesarkan dalam nilai-nilai Islam."
Indeed, the world has changed, people have changed. But we have with us in this path of ours, an example greater than any ubersexual men of all time. It is none other than Rasulullah SAW,our leader (Imam) in this path of truth. Truly with us also, a group of men better than those described in ABC, and they are the Men of the Cave (Ashabul Khafi)..
"Kami ceritakan kisah  mereka kepadamu dengan sebenarnya. Sesungguhnya mereka itu adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka dan Kami tambahkan kepada mereka petunjuk."
Al-Kahf (18:13) 

Di mana dicari pemuda kahfi? Pada tanya ini alangkah inginnya saya menjawab, "Mereka di sini.. Di Jalan Cinta Para Pejuang!"

Wallahua'lam

Sunday, January 19, 2014

Roti itu



Sinar pagi ufuk timur menyimbah kerut usia di dahi sang tua itu. Bibir legap kerasnya terkumat-kamit. Ada bebelan yang tidak langsung dimamah benak. Sekadar ucap oleh hati yang penasaran. Keringat yang terperah melencun pakaian lusuh pemakai. 

Belakang tangan penuh urat dibawa ke dahi. Peluh terenjat dilap. Bibir belum puas melepas radang dengan bebelan. 

Sosok tinggi lampai itu sebak. Hati kecil cuba dikuatkan untuk melabuh cangkung di sebelah wanita buta itu. Bebel si tua dibiar ke dalam benak, tanpa dicerna. Berat hati untuk menghadam kata maki tanpa sepatah benar.




Alis jelas memaparkan kejernihan wajah. Langsung tidak hadir kerut di dahi.

"Mana mungkin agama membawa pecah? Mustahil!" Sang tua menghamun.

Bibir nipis itu mengoyak senyum ikhlas. Senyum itu tidak sirna dek panas mentari, mahupun maki hamun sang tua.

"Jangan pernah kamu mendengar syair Muhammad, nak." Si tua buta itu membebel dengan roti masih lagi dikunyah. "Syair Muhammad itu sihir!"

Jemari telus itu menekan-nekan roti untuk dilembutkan. Sekali lagi, jarinya menyuap lembut bibir yang keras membebel.




"Kamu datang lagi, ya nak?" Nada sang pengemis turun dua tiga oktaf. Senyum terkoyak pada bibir walau pandangan dibawa ke lain.

Yang mencangkung sekadar mengangguk mengiyakan. Roti dalam genggam dicubit lembut. 

"Lihat sahaja masyarakat kita," dalam bisik wanita buta itu menuturkan. Bebelannya belum habis. "...masyarakat berpecah!"

Abu Bakar tertambah sebak. Mata menahan tangis semahunya. Tangan yang hampir menyuap teragak-agak meneruskan. 

"Muhammad itu gila!" Nada naik lagi satu oktaf. "Jangan percaya kata-katanya."

Roti itu akhirnya menyua mulut. Sang buta itu mengunyah seketika, lalu diludah dengan jelek seluruh roti yang dimulutnya. "Penipu! Kamu bukannya anak yang selalu menyuapkanku."

Mana mungkin, berkat jari Sang Habibullah, bisik Abu Bakar, ada pada jemariku. Dan butir jernih keluar jua biarpun tertahan.


"Apabila kunawaitukan anakku untuk Allah dan Rasul, perancangan Allah berjalan dengan cara yang tidak mampu untuk aku membayangkannya." Tuan Haji Ahmad Azam, ayahanda almarhum Ahmad Ammar.

Sungguh agung kebijaksanaan al-Qadir, Yang Maha Merancang, dalam menentukan arus dakwah  daie cilik Ahmad Ammar. Dakwah beliau tidak mati kerana kematian. Lihat sahaja usaha dakwahnya yang diagung-agung seluruh masyarakat Malaysia. Ceritanya meniti bibir-bibir.

Qudwah Rasulullah saw mengajar erti sinar dakwah, seseorang daie, tidak putus setakat kematian. Biarpun mati itu suatu kerehatan, namun dakwah yang baik adalah dakwah yang takkan pernah mati.


"Apa baginda tidak pernah sesal dengan maki hamun aku?" Laras bahasa wanita itu berubah. Nadanya marah. Cuma marah itu lebih ditujukan kepada dirinya sendiri.

"Ajari aku Islam, nak."


[Roti itu]
Salam Rabiulawal 
Buat diri 
Yang mencintai Rasulullah secara bermusim
Habiburrahim

Sunday, January 12, 2014

Jalan Cinta Para Pejuang V

~Langkah Kedua: Dunia Kita Hari Ini

Awan dan Hujan sering melupakan
Yeap. Dear readers, having to read this part of the book requires a lot(and I mean, a lot!) of philosophical background to bring you towards comprehensive matters brought up by the writer on different views of the world regarding on SPIRITUAL QUOTIENT.

All the while, let's not forget the importance of this part of the book to further allow us to see the world we are to commence with. We are indeed striving and fighting for one path, the true path of this life; the path to our Rabb. But in the world we are in today, we would be dealing with a lot of fighters, fighters who have paths of their own. Because of that, we would all have to be weary of an extensive clash that will eventually take place sooner or later.


  • Be it Sigmund Freud with his theory; Psychoanalysis that claims the spiritual dimension of human beings is a sublimation of animal instincts, inspired by the philosophical reference of Darwin's theory of evolution. 
  • Be it John B. Watson's Behaviorisme theory, that brings logical scientific explanation of the Psychoanalysis theory, but doesn't run away from the understanding that humans and animals are not that far apart. 
  • Be it Ivan Pavlov that introduces Classical Conditioning as a theory that supports the two above, but proven the concept by an experiment with a dog.
  • Be it Burrhus F. Skinner with his theory; Operant Conditioning that introduces the "Reward and Punishment" concept in management. He also claims that only by understanding behavioural aspects of animals will us explain even the most complex behaviour of human in his "Skinner Box" experiment.
  • Be it Danah Zohar and William Bloom that claim SQ is nothing similar to being Religious.

Unlike the mutual dependence of Cloud and Rain, Western Orientalists have separated Spirituality with Religion. The trauma the Westerners have towards the history of the Church that was once known to be an institution that has complete authority over the people may have not yet resided. "Di Barat, hujan dan awan telah lama saling melupakan."

Spirituality and Religion; inseparable from each other
"Kebangkitan Spiritual ini bisa menjadi pemantik bagi para pemeluk agama untuk lebih meyakini, lebih dalam memahami, dan menjadi pejuang bagi agama dengan keyakinannya itu."

"Di Jalan Cinta Para Pejuang, kelak mungkin kita akan menghadapi para 'Pejuang' yang lain. Seperti kita yang meyakini Allah, mereka juga meyakini sesuatu. Sesuatu itu menggerakkan mereka. Mereka berjuang sebagaimana kita berjuang. Maka mungkin saja akan ada perbenturan. Dan Pertempurannya adalah pertempuran iman.. Bersiapsiagalah selalu di Jalan Cinta Para Pejuang.."

Allahua'lam

Friday, January 3, 2014

Jalan Cinta Para Pejuang IV

~Langkah Kedua: Dunia Kita Hari Ini

 The Three Rules of Epidemic or The Tipping Points of Epidemic



Malcolm Gladwell suggested three agents that are responsible in causing changes to a certain condition. They are The Law of the Few, The Stickiness Factor and The Power of Context.

The idea that the first agent(The Law of the Few) brings is that success of any kind of social epidemic is heavily dependent on the involvement of people with a particular set of social gifts. According to Gladwell, economists call this the 80/20 Principle, which is the idea that in any situation, 80% of the work will be done by 20% of the participants. A great change can be made by just a few people.

While The Law of the Few discusses on the messenger, The Stickiness Factor explains about the message itself; the specific content of a message that renders its impact memorable. To test the efficiency of the messenger, the message has to effectively make an impact to the memory. It is when you clarify and present each importance of the content that will make a particular message memorable.

In The Power of Context, Malcolm Gladwell explains, "Epidemics are sensitive to the conditions and circumstances of the times and places in which they occur"A character or an attribute of oneself can never be easily described in a permanent term and often not easily identified straight away. This means, that one can behave differently at a different time and situation, depending on the context he or she has been exposed to. 

A character of a true Fighter is not often said to be influenced by a particular context, having said that the context itself must be understood. Once the context have been perceived, only then we are able to master it!

Jalan Cinta, Singgah Untuk Menaklukkan Zaman
Age (Zaman) is a massive CONTEXT that frames our path as a Fighter. "Dan kerana keagunganNya, maka jalan cinta para pejuang tidak boleh hanya singgah di konteks itu. Ia melangkah lebih jauh. Ia menaklukkan. Dan jika ingin menaklukkannya, sebaiknya kita memahaminya terlebih dahulu."

Seperti kita semua
Setiap pejuang adalah anak zaman 
Tetapi mereka menguak celah dinding  sejarah
Tepat di saat mentari meninggi 
Lalu peradaban menjadi lebih cerah 

Which Era frames our Path?
Stephen R. Covey's The 8th Habit presents history in five different ages. There's the Hunting Age, the Agriculture Age, the Industrial Age , the Informative Age and the Wisdom Age in which has just begun. "The era in which we are heading to is Wisdom", says Stephen. "Mungkin di sana memang kebijaksanaan berlimpah . Tetapi untuk menujunya, hanya mental para pejuang, karakter para pejuang, kerja-kerja besar para pejuang dan -tentu saja- jalan cinta para pejuang yang bisa kita andalkan."
"Kita akan mengenali dunia yang menjadi bingkai  jalan cinta kita. Kita akan memahaminya agar lebih siap menghadapinya . Kita akan memahaminya untuk menaklukkannya di jalan cinta kita, jalan cinta para pejuang.."
Karena ke kemah kami
Sejarah sedang singgah 
dan mengulurkan tangannya yang ramah
tak ada lagi sekarang waktu
untuk merenung panjang, untuk ragu-ragu
karena jalan masih jauh

Allahua'lam

Monday, December 23, 2013

Jalan Cinta Para Pejuang III

~Langkah Pertama: Dari Dahulu Beginilah Cinta

Situating Happiness
Weak were the hearts of humans as Qais and Romeo... Why?

Anis Matta wrote in her Love serial,
"Kita mencintai seseorang lalu kita menggantungkan kebahagiaan kita pada sebuah kehidupan bersamanya. Maka ketika ia menolak atau tak beroleh kesempatan untuk hidup bersama kita, itu menjadi sumber kesengsaraan."
In a nutshell, Love brings sorrow because the happiness that we place in it is interpreted as 'togetherness'.

Mencintai tak harus memiliki..
An interesting phrase in this book that I found most valuable to share is the fact that he argues the whole intention of people to love.
Says he, "If loving someone was enough to give that happiness, then people such as Qais and Romeo wouldn't have to worry, even if their love was not returned or acknowledged!"
And so, the question arises, does that version of love shows SINCERITY?
Earth to human...Yah, we all do want something in this life. We do hope for a return at some point of our investment, and when we love, we would all want to be loved as well. But, is the idea of love that brings 'togetherness' worth balancing?

A Triangular Theory of Love


The three main components in Love given by Sternberg are:
~Intimacy;
an emotional element that is signified by the desire to be around the one you love, and to build a relationship with them, 
~Passion;
a motivational element that is driven by the sexual attribute of oneself, and
~Commitment;
a cognitive element that implies within one's decision to constantly be together in a long period.

And these elements combined to form different concepts of Love.
Consummate Lovea perfect combination of the three.
Non-Lovean outlier from these elements.
Likingintimacy without passion and commitment.
Infatuationpassion without intimacy nor commitment; "Love at first sight".
Empty Lovecommitment with the absence of passion and intimacy.
Romantic Lovea unity of intimacy and passion, but without commitment.Beautiful, sweet, yet so temporary.
Companionate Loveeliminating passion and adhering commitment and intimacy. A sweet friendship.
Fatuous Lovea type of love blinded by commitment and passion but disregards intimacy.

As catchy as this 'so-called Theory of Love' looks, it could not be adapted to a version of Love other than the love between opposite genders,say, a mother's love for her child. 
Must an ideal love be established by PASSION, followed by INTIMACY, and then, COMMITMENT?

The Key to the Theory of Love
"Scientists are discovering that the cocktail of brain chemicals that sparks romance are different than what fosters long term attachments.",
says psychologist, Lauren Slater. Meaning, PASSION and INTIMACY in Romantic Love, has no connection with building up commitment to stay in longevity with a person.

So, that's where it starts! EMPTY LOVE... Building up commitment.

"Jalan cinta para pejuang adalah jalan kesetiaan dan pengorbanan. Komitmen adalah ikrar kerelaan berkorban; memberi bukan meminta, berinisiatif tanpa menunggu, memahami dan bukan menuntut. Komitmen adalah ikatan kesetiaan"
"Hai orang-orang yang beriman, barang siapa di antara kalian yang melepas ikatan kesetiaan dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Dia cintai dan mereka pun mencintaiNya.."
Al- Maaidah (5:54)


"Di Jalan Cinta Para Pejuang, komitmenlah yang akan menjadi tapak langkah pertama cinta kita..."

Wallahua'lam

Sunday, December 15, 2013

Jalan Cinta Para Pejuang II

~Langkah Pertama: Dari Dahulu Beginilah Cinta

Amor Vincit Omnia
"Wahai kematian datanglah cepat kemari! Hisap dan dekap tubuhku yang penuh cinta ini kerana tidak ada sesuatu di hadapan matahari yang mampu memulihkan kesedihanku.."
William Shakespeare, Romeo and Juliet


 

Cinta adalah gulana ketika menyedari dua keluarga mereka(Romeo dan Juliet) masih bertelingkah. Cinta adalah duka yang mengiris pedih di saat-saat berpisah. Rindu mereka menguruskan tubuh dan menguraskan air mata....

"Love conquers all". Or does it?
The phrase would go attune or become harmonised with those who immerse deeply into love. That's because Love becomes the master, and the sky is the limit. Although is not the mountains nor the seas that is conquered, it is rather the vulnerable soul of the person. When Love grabs hold of one's soul, the whole body feels as if it dances to the melancholic melody. Strange as it seems, the vivid view of the flawless world of romance, remains an illusion to the beholder. "Dari dulu, beginilah cinta, deritanya tiada akhir..."

This mental illness, where does it come from?
Ustadz Muhammad Fauzil 'Azim asserts in "Disebabkan oleh Cinta",
 "Tidak ada sebenarnya orang yang gila kerana putus cinta. Yang ada adalah orang dengan keadaan jiwa yang rapuh, jiwa yang retak-retak, lalu sebuah peristiwa menyentak, menjadikannya berkeping-keping."

For Qais and Romeo, these were the description of their devastating souls, the souls that were kept servitude to venomous Love.

A soul, enslaved by Love of that kind,  precedes love as the basis of all their actions. After a while, Love becomes Ilah. It is as though the Sun was created for Love, and the moon shone because of Love.

We do have a choice!
"Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu jalan durhaka dan jalan ketakwaanNya"
Asy Syams (91:8)

The gift of choosing is verily the most basic desideratum (bekalan) while holding the obligatory title of a khalifah, and Allah has given us that authority to do so. This is no exception to Love, for there is always room for assertion (tanggapan) and stimulation (rangsangan). Indeed, we all have wants and desires. But, Allah would only bestow His adoration (pujian) to those who choose to have faith in their hearts and prevent themselves from unnecessary desires.

"Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Rabbnya dan mencegah diri dari kuasa nafsunya, maka syurga lah tempat tinggalnya."
An-Naazi'aat (79:40-41)

And so this ayat clearly shows that those who take charge of their Hawa' (instead of their desires as their authority), would be rewarded by Allah. 

What would desire (nafs) have anything to do with Love??
Amazingly related. 
زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآبِ
"Beautified for people is the love of which they desire - of women and sons, heaped up sums of gold and silver, fine branded horses, and cattle and tilled land. That is the enjoyment of worldly life, but Allah has with Him the best return" 
Ali-Imraan (3:14)

In Love, there are impulses to achieve happiness, tranquility and to feel great. 

Can we really control our emotions??
"Love is a sweet torment..", said Maria in her novel, Ayat-ayat Cinta, "when immersed in a state of Love, there are moments to feel despair, agony, apathy and pain". Good, or bad, these are what we call EMOTIONS. In a Quranic perspective, we have all means to control our desires, but can we really do it?

An amazing discovery by Ekman and Friesen has proven to us that we are a master of our emotions and desires. In detail, their finding was based on the question, "Can we feel what we have expressed in our faces?". They had hundreds of students to do one particular expression that signifies an emotion, while their heart rates were measured. Astonishingly, those who had to come up with a sad expression had a very slow pulse rate, indicating that their whole body were adapted to what they had expressed. Fast pulse rates were found in those who expressed happiness in their faces. 
There you have it. We CAN control our emotions!

"Di Jalan Cinta Para Pejuang, perjuangan pertama adalah sebuah pergelutan jiwa. Pergelutan jiwa untuk menaklukkan cinta itu sendiri..."
Wallahua'lam
"Sesungguhnya aku sedang menasihati kamu, bukanlah bererti akulah yg terbaik dalam kalangan kamu. Bukan juga yang paling soleh dalam kalangan kamu, kerana aku juga pernah melampaui batas untuk diri sendiri. Seandainya seseorang itu hanya dapat menyampaikan dakwah apabila dia sempurna, nescaya tidak akan ada pendakwah. Maka akan jadi sikitlah orang yang memberi peringatan". Imam Hassan al-Basri

Diskeleimer

Dari penulis diskeleimer:

Anda digalakkan untuk menekan labels untuk mencari entri yang berkaitan dan bersangkut paut.

Gambar adalah banyak dicedok dari Encik Gugel.

Jika bermanfaat, silakan ebarkan bahagia! Oh. Dan lebih elok kalo disertakan url blog ini sebagai rujukan. Share melalui medium2 sosial adalah lebih digalakkan.

~Moga Bermanfaat~
Gadgets By Spice Up Your Blog