Showing posts with label Rasulullah. Show all posts
Showing posts with label Rasulullah. Show all posts

Sunday, September 6, 2015

Manikam yang Tercengkeram




Badan-badan yang bahkan pagan, merunduk lemah. Tatap-tatap penuh khusyuk dan cinta, beransur memerah, menyugul.

Dan tidak kurang, seupaya indra-indra yang tadinya celik, mengejap menahan esak. Titik-titik bening keterujaan di mata sahabat-sahabat berganti kaca-kaca jernih. 

Begitulah, respon sahabat akan khutbah wida' Muhammad alayhissalam sampai ke bait-bait baginda yang menyejarah. Tatapan nan purnama itu penuh kasih, lantas bibir yang lembut itu melantun, "aku tinggalkan kalian dua perkara, takkan sesat selagi kalian memegangnya, alQuran dan Sunnah."

Dan wasiat Sang Rasul ini membumi, dan masih tersisa gizi-gizinya sampai ke hari ini, kalaupun seluruh dunia berniat menggali. Sunnahnya terpelihara, kokoh dalam cengkerang manikam.

Muhammad tidak sekadar bayi ajaib yang memadam api Majusi dan meruntuh singgahsana Kaisar Kisra, tapi doa yang dimunajatkan Ibrahim; bukan sosok jujur tergelarkan al-Amin, tapi bicara permata yang terjalin hikmah tanpa dusta; bukan hanya tunjang yang meredupteduh tapi akar yang kurnia beruntai membenihkan cahaya.

Muhammad tidak sekadar pencerah segenap manusia, bahkan rahmat yang semesta.

[Manikam yang tercengkeram]
Faris Nafiah
Habiburrahim

Saturday, October 4, 2014

Bicara itu



Masih menunggu.

***

Dia melangkah menemui Rasullullah.

"Wahai Khuwayla, sepupumu itu seorang dalu, bertaqwalah kepada Allah." Jawab Rasulullah.

Hatinya remuk. Berantak. Lumat.

Seperca hati yang relai itu bergetar menafikan perbuat suaminya itu sebagai keadilan.

Dan secarik hati itu juga tahu, ada kuasa yang mampu menindan segala kuasa yang miring itu. Dia menadah daya memanjat tuturan adu akan Allah. Bait-baitnya tersusun cantik, bukan asal pilih. Lidahnya menggumam kata penuh harap. Lafaznya perkata, jelas.

Dan dia, masih menunggu berdekatan dengan Rasulullah.

Masih menunggu turun firman pengadilan.

***

"Engkau bagiku umpama belakang ibuku."

Dia Khawla bint Thalabah, menjalin kata penuh khusyuk dalam menghitung khabar suaminya, Aws ibn al-Samit yang menziharnya, kepada Daya yang mengatasi komune menindas itu.

***

Bicara itu

kalau terusaha sendiri mengutus,
manakan mampu 
''...seakan-akan dia (sedang) mendaki ke langit..."
[al-An'am, 6 : 125]

bicara itu
dibawa angin
merentas tindan langit tujuh
menyorot kabut awan

bicara itu,
tanpa hijab, 
tanpa perutus

bicara itu,
bicara sejumput hamba hina
bual mesra budak nista
tutur adu khadam dina

bicara itu
bicara dua hala akan Ilahi

"Adakah penghormatan bagi manusia
seperti penghormatan yang tinggi mulia seperti ini?"
[Fi Zilalil Quran]

ini
bicara penghormatan namanya

***

"Allah menurunkan kalam titah untuk menyaksamamu dan suamimu." sabda RasulNya.

"Sesungguhnya Allah telah mendengar (dan memperkenan) aduan perempuan yang bersoal jawab denganmu (wahai Muhammad) mengenai suaminya, sambil ia berdoa merayu kepada Allah (mengenai perkara yang menyusahkannya), sedang Allah sedia mendengar perbincangan kamu berdua. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar, lagi Maha Melihat."
[al-Mujadila, 58 : 1]

Kalam titah pengadilan, al-Mujadila ayat 1 hingga 4.
Bicara Allah sama Khawla. Bicara Allah sama manusia.

[Bicara itu]
Habiburrahim




Thursday, September 25, 2014

Penawar





Dahinya berkerut, seribu. Kelopak mata memejam, erat. Semahu ditahan.

Urat didahi menjelas segala. Sakit dari juluran kaki itu menjalar, ke seluruh badan. Namun, jasad bertegas, kaku seadanya. Tak terketarkan, walau kudrat seluruh tubuh tambeng menginginkan.

Perih bertahan, tapi lumrah tubuh merembes air, meluap sakit dengan takungan air mata. Air mata itu jatuh jua pada pipi putih baginda.

"Apa hal dirimu ya Abu Bakr?" tanya baginda, setelah bangun dari riba sahabatnya.

"Aku disengat, demi ibu bapaku korban untukmu, ya alayhissalam."


Sunnah berjuang,
Sejuta bakal berantak
Bila ruh bergulatbergumul

Mari jujur
Siapa mampu bertahan
Saat sengat menjamah badan
Kala panah teracak bertatu pada badan
Andai tertusuk pedang
Tika jatuh berulang-ulang? 

Setidaknya,
Kita pungut sisa keringat yang tertahan
Dari kalah, jatuh pada lawan


Baginda menawarkan, melumur bekas sengatan itu dengan ludahan baginda. Saat itu, kesakitan terpudar.

Maka, keajaiban.

Setiap penawar,
pahit, bukan?

[Penawar]
Habiburrahim


Saturday, May 3, 2014

Terhiris



Amarah itu pelik. Dendam itu jelek. Yang dimarah tak sakit. Yang memendam itu perit.
Bengkak hati itu penyebab lengan luka dek duri, asal keringat terenjat di dahi, pasal bahu tergalas kayu berduri.

Derap langkah deras walau terlihat berat. Terlihat jelek oleh jelingan para mata di sekitar jalanan. Tak kurang membisik. Tak terendahkan. Malah, yang lagi diendahkan adalah bara amarah yang tergenggam kemas dek hati. Diapi-api lagi sang mulut yang mencaci. Tergelorakan oleh jaringan prasangka dalam benak.

Julukan nama tak lagi melambang perilaku.

"Umm Jamil!" Satu suara memanggil. Terluat dengan keterlaluan mugkin. "Kemana kamu dengan duri-duri?"
Soalan yang terlebih tahu jawapannya. Sengaja empunya suara hendak menzahir jelek wanita itu.




Demi sesungguhnya! Kami akan menguji kamu dengan sedikit perasaan takut dan lapar, dan kekurangan dari harta benda dan jiwa serta hasil tanaman. Dan berilah khabar gembira kepada orang-orang yang sabar:



Huruf 'wau' pertama, menurut mufassirin, bukanlah 'athaf (penyambung), tapi merupakan qasam (sumpah).

"Wallahi lanabluwannakum";
Demi Allah, sungguh Kami menimpakan bala ujian keatas kalian.

Dalam erti kata lain, jelas daya yang berat pada kata ujian tersebut sehinggakan tersumpah oleh Allah sendiri, tidak akan terlepas dari pandanganNya jiwa-jiwa para hamba daripada ditimpakan ujian.



Ego terhiris dalam. Amarah lagikan terapi.

"Ini," Isteri Abu Lahab itu mendaras intonasi bersungut, "layak sebagai hiasan jalanan fajr Muhammad!"



Terikut firmanNya, bisyai'in min, yakni dengan sedikit.
Jiwa hamba wajarnya lebih tahu, pahit yang disumpahkan Allah itu hanya sedikit.

[Terhiris]
Kalaupun terteori bahagia itu berpanjangan,
Kenapa pelangi sendiri terhiris dek hujan?
Habiburrahim

Friday, February 21, 2014

Doa yang terlantun


Amarah Sang Tegas itu terkawal dek hikmahnya, tak terhambur terludah merata. Namun, langkahan kaki sedikit menghempas tempias amarah yang tertahan.


"Sekiranya aku berbuat demikian, begitulah juga apa yang dilakukan oleh orang yang besar hak engkau ke atasnya melebihi diri aku.”

"Siapakah dia?” "Saudara perempuanmu dan juga iparmu."


Bisik-bisik dari celahan rumah Bintu alKhattab itu meluapkan berang Sang Umar. Dia tahu benar, syair yang terdendang itu nyata syair Muhammad. Jengkel, Umar meluru ke dalam rumah adiknya.

"Apakah semuanya ini?"

Fatimah tahu benar, tindakan saudara lelakinya diluar batas waras akal. Masakan abangnya melulu dan bersandarkan emosi? Jujur, ada getar yang menyelinap hati kecilnya.

"Apakah engkau telah tinggalkan agama nenek moyangmu dan mengikut agama Muhammad?”

Dan bertubi-tubi soal selidik dihambur. Tidak cukup dengan itu, tangan kasar Sang Umar meramas rambut Fatimah. Ditampar berkali-kali memenangkan amarah semata.

Berkali iparnya menghalang, namun daya sang semut takkan pernah mampu menenteramkan angina sang gajah.

Jasad Fatimah yag terjelopok ditatap penuh marah. Cungap nafas terhembus, persis api radang yang berkeping-keping teruap.

Fatimah menggagahkan sokongan belakang tangan. Sebelah lagi tangan memegang kepala yang berdarah.  “Perbuatkanlah, kalau engkau sudah terpaksa.”

Malu. Runsing. Tindakannya melulu. Rasionalnya tercabar. Kisikan fitrah seorang abang Sang Umar singgah menggelayut. Perlahan, Umar melabuhkan riba, “Tunjukkanlah kitab itu kepada aku.”

“Kitab ini tak tersentuh mereka yang tidak bersih.”



Secara psikologikal, dapat dirumuskan afeksi para hati anak Adam itu terpengaruh dengan keadaan sekeliling.

Mari kita amati sebahagian daripada ayat yang menyentuh hati tegas Sang Umar,

“Ketika ia melihat api, lalu berkatalah ia kepada isterinya: "Berhentilah! Sesungguhnya aku ada melihat api semoga aku dapat membawa kepada kamu satu cucuhan daripadanya, atau aku dapat di tempat api itu: penunjuk jalan.
 Maka apabila ia sampai ke tempat api itu (kedengaran) ia diseru: ‘Wahai Musa! Sesungguhnya Aku Tuhanmu! Maka bukalah kasutmu, kerana engkau sekarang berada di Wadi Tuwa yang suci.
Dan Aku telah memilihmu menjadi Rasul maka dengarlah apa yang akan diwahyukan kepadamu. Sesungguhnya Akulah Allah; tiada tuhan melainkan Aku; oleh itu, sembahlah akan Daku, dan dirikanlah sembahyang untuk mengingati Daku.”
[Taha, 20 : 10-14]

Kisah Musa ini dekat dengan situasi yang dialami sahabat Rasulullah saw ini.

Jejak langkah Umar alKhattab ke rumah adiknya tidaklah terkebetulan sejajar dengan firman Allah akan jejak langkah Musa ke Lembah Tuwa.

Tidak cukup dengan itu, perintah al-Hikmah agar membuka sepatu kerana berada di lembah suci Tuwa bertepatan dengan suruhan adik kandungnya, Fatimah untuk menyucikan diri.

Akidah Islam membenarkan segala kejadian sebagai aturan Yang Maha Mengaturkan, bukan sekadar kebetulan. Dan hati getas Umar faham amat hakikat itu.

Aku telah memilihmu…”, terdeklamasi firmanNya, dan Umar mengerti langkahannya ke rumah Fatimah, tidak mungkin tidak, adalah kerana terpilinya dia sebagai Islam.

“Ya Allah muliakanlah Islam dengan salah satu dari dua Umar.”

Dan detik itu, doa yang terlantunkan menuju langit ini terkabul.

Setiap hati yang tersentuh itu, seharusnya memahami, detik hati terdetap dengan Islam, detik itu jua Allah telah memilih hati itu untuk memahami Islam.

“Aku telah memilihmu…”




“Di manakah Rasulullah saw?” lantunan intonasi Sang Tegas itu berganti amat.

“Baginda di rumah al-Arqam.”


[Doa yang terlantun]
Habiburrahim



Tuesday, January 21, 2014

JALAN CINTA PARA PEJUANG VI

~Langkah Kedua: Dunia Kita Hari Ini

Where we are heading
I feel it would be no harm just to re-EMPHASIZE  on the basic understanding of each part of the book the writer intends to instill to the readers.

Langkah Pertama
Reading this part of the book helps you to comprehend the meaning behind that path of love; the path the fighters take for the love of their Lord and the love for this deen; unlike the broken, devastating and temporary love that is now amplified by youths these days, or even back in the past.

Langkah Kedua: Singgah Untuk Menaklukkan
You will find that this part of the book unfolds the secret behind creating a bigger impact in so little time and effort. The writer also defines the Age in which we are engaging in, in order for us to conquer and make changes towards it, as well as through time itself.

Langkah Kedua: Hujan dan Awan Saling Melupakan
This part of the book provides multiple perspectives belonging to the western orientalists regarding spirituality and  religion. These views depicting the behaviour of human beings have been purposely diverted to have an adaptation of animals, simply to defy the existence of religion and God in their findings.

ABC
ABC simply stands for; Abstinence, Be faithful and Condom. 
Abstinence movement was created by a group of american teenage girls who fought hard for the abstinence of committing sexual intercourse with men other than their future spouse. How did it start? Simply because they have already witnessed the pitfall of this awful practice that was once known to be "progressive" and "modern". 
Dear fighters of this righteous path, the world now needs to fight to get things right, to put a stop onto inhuman acts put to practice worldwide. The world needs Islam so badly, but they don't even know it... 

It is now easy to find libertarian who seek to find reasons to defy the commandments of Allah Subhana Wa Ta'ala  in the Qur'an and to defy the layouts of this beautiful deen of ours. Some others search to find Hikmah behind these commandments. Generally, the society has lost faith in Allah's commandments. They forgot how beautiful Allah has put His Creations to work. 
"Kamu diwajibkan berperang, sedang peperangan itu ialah perkara yang kamu benci; dan boleh jadi kamu benci kepada sesuatu padahal ia baik bagi kamu, dan boleh jadi kamu suka kepada sesuatu padahal ia baik bagi kamu. Dan (ingatlah), Allah jualah yang mengetahui, sedang kamu tidak mengetahuinya."
Al Baqarah (2:216) 

There is also a story of ABC written in a very famous novel called Les Miserables, involving a group of young men with very unique attributes who fought in a revolution that was heading for a downfall. 

This section of the chapter not only explains the movements caused by the ignorance of Allah's commandments, but also highlights  Pemuda, the young generation who are generally involved in these causes.

Lelaki Warna-warni
The writer tries to bring about the massive changes occurring in the world of men; from the appearance-conscious metrosexual  to the intellectual and societal-conscious ubersexual men.
"The world hopes more for young men who spend their time to read, enjoin in various courses, get up to date with the current issues, rather than  those who spend their time in the salon, do their hair, make their face or even patch-to-match and accessorise! The world hopes for young men of the future, young men who have deep concern with the surrounding, the stake of society, the verdict of mankind..." says Marian Salzman.

"Kelak, yang kita hadapi dalam perjuangan menegakkan agama ini mungkin bukan para metroseksual yang takut kuiltnya lecet, tapi mereka yang begitu teguh memegang prinsipnya namun belum mengenal bagaimana mentauhidkan Allah. Yang akan kita hadapi bukan para pria cengeng yang menangisi kuku tergores, tapi mereka yang kukuh karakternya meski tak dibesarkan dalam nilai-nilai Islam."
Indeed, the world has changed, people have changed. But we have with us in this path of ours, an example greater than any ubersexual men of all time. It is none other than Rasulullah SAW,our leader (Imam) in this path of truth. Truly with us also, a group of men better than those described in ABC, and they are the Men of the Cave (Ashabul Khafi)..
"Kami ceritakan kisah  mereka kepadamu dengan sebenarnya. Sesungguhnya mereka itu adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka dan Kami tambahkan kepada mereka petunjuk."
Al-Kahf (18:13) 

Di mana dicari pemuda kahfi? Pada tanya ini alangkah inginnya saya menjawab, "Mereka di sini.. Di Jalan Cinta Para Pejuang!"

Wallahua'lam

Thursday, January 24, 2013

Rasulullah SAW



Bukit itu dikerumuni sekalian manusia. Orang pasar, peniaga, pedagang, tak kurang para pembesar. Kesemua bola mata memandang susuk tubuh tersebut.

Terik matahari dibuat tak endah. Lelaki tampan itu membuka mulut.
“Wahai Bani Fihr, wahai Bani Ady, wahai semua kaum Quraisy!” teriakan itu melantun dari bibir yang tak lekang dengan senyuman. Lantang. Lembut bahasanya. Menyusup jelas ke dalam telinga sekalian pemerhati.

Penduduk Quraisy kesemuanya menanti bicara indah Sang Terpuji.

“Apa pendapat kalian sekiranya kukhabarkan sepasukan berkuda bersenjata lengkap mengepung, siap menyerbu Makkah dan melumatkannya?”

Bibir sekaliannya berebut menjawab lontaran tanya itu.
“Kami belum pernah mendengar khabar dusta darimu Muhammad!”
 “Benar.”
“Engkau yang bergelar al-Amin mana mungkin terlontar kata dusta.”

Dan lelaki indah itu masih dengan senyumannya. Indah. Terik matahari menyimbah seluruh tubuh penuh sempurna itu.

“Sesungguhnya, aku adalah pembawa peringatan dari sisi Allah sebelum datangnya…”

“Tabban laka ya Muhammad! Alihaadza jama’tanaa?!! Binasa engkau wahai Muhammad! Apakah untuk urusan seremeh ini kami dikumpulkan?!!” pantas bicara indah Sang Rasul itu dipotong lelaki tampan berkulit putih, bermata juling dengan telunjuk teracung marah pada susuk indah di atas bukit Safa.

Dan cemuhan itu turut diperhati si pemuda di sudut lainnya. Sudut yang sememangnya berlainan memang. Terpisah oleh dimensi masa dan tempat. Fikirannya menerewang. Bukan pada bicara hina duri dalam dakwah Islamiyyah itu. Bukan pada bicara saksi dakwah Baginda. Bukan pada kata-kata yang membenarkan setiap lontaran suara Sang al-Amin.

Tapi pada bicara ilmi Sang Nabi.
Pada tutur kata sempurna Sang Rasul.
Pada suara dakwah Sang Rahmat Sekalian Alam.

Mencari jawapan di sebalik kata.
Mencari jawapan dengan meletakkannya dirinya sendiri di Bukit Safa.

Apa mungkin seseorang dari kalangannya sendiri mengaku sebagai pembawa utusan kebenaran?
Bagaimana mungkin si ayahandanya, atau mungkin jiran tetangga, atau mungkin anak saudaranya sendiri mengaku sebagai Nabi.

Dan dia mula membayangkan sendiri perit jerih Baginda SAW.
Entah. Apa jawapannya?
Apa jawapan sanggupnya Baginda?

Wajahnya diangkat dari buku sirah tersebut. Baginda Rasul…

Mungkin, jawapannya helaian yang dikhatamnya berbulan-bulan yang lalu. Pada kisah kematian Abdullah ibn Ubay, Bapa Munafik sezaman dengan Rasulullah SAW.

‘Umar  mengah. Segala perbuatan kejahatan khianat Abdullah dihemburkan. Dia menghalang. Tegas menghalang.

Utusan langit itu masih dengan senyumnya. Lembut namun tegas. Tetap pada pendirian baginda.

Dan saat, detik itu menyaksikan nuzul at-Taubah, ayat 9.

(Orang-orang munafik itu) sama sahaja engkau meminta ampun untuk mereka atau engkau tidak meminta ampun bagi mereka. Jika engkau (wahai Muhammad) meminta ampun bagi mereka tujuh puluh kali (sekalipun) maka Allah tidak sekali-kali mengampunkan mereka yang demikian itu, kerana mereka telah kufur kepada Allah dan RasulNya dan Allah tidak akan memberi hidayah pertunjuk kepada kaum yang fasik.

“Hai ‘Umar,” sabda Sang Nabi, “jika sekalipun Allah memaafkan Abdullah ibn Ubay pada pohon keampunanku lebih tujuh puluh kali, akan aku pohon keampunan ke atasnya.

Jawapannya. Mungkin.

Mungkin juga pada kata-kata akhir Baginda Nabi.

Usia tua tidak memudarkan senyum indahnya. Wajah itu indah sekalipun di lewat usia. Peluh bersimbah pada wajah putih Baginda. ‘Aisyah menggenggam erat tangan RasulullahSAW.

“Apa nasib ummahku wahai Izrail?” Bibir indah itu lagi sekali menuturkan.

Adin menutup buku di tangan. Buku sirah. Kalau nak dikira, dah berkali-kali khatam muka-ke muka. Tapi ada persoalan berlegar pada fikirannya.

Jawapannya pada satu kata.
Cinta.
Love.
Lyubov’.
Amor.

Kerana cinta itu agung maksudnya. Tinggi sasteranya. Dalam definisinya.

Dan definisi cinta itu termaktub dalam setiap inci hidup Baginda.

Baginda cinta akan kita.

"Dan tiadalah Kami mengutuskan engkau (wahai Muhammad), 
melainkan untuk menjadi rahmat bagi sekalian alam"
[al-Anbiya' : 109]

[Rasulullah SAW]
Kerana Baginda mencintai kita
:']
Habiburrahim

Bahasa...skema. Tak pernah buat. Entah. Nak cuba. Aman

Wednesday, June 20, 2012

SIAPA ENGKAU??!!



SIAPA ENGKAU?? SIAPA AKU??? SIAPA KITA????


indeed,my friends, a question we should ask ourselves to do what we call as, MUHASABAH...


the prophet Muhammad SAW was once asked by Allah SWT;


"SIAPAKAH ENGKAU, WAHAI MUHAMMAD?"


"YA ALLAH! AKU HANYALAH SEORANG YATIM PIATU..."




"SIAPAKAH ENGKAU, WAHAI MUHAMMAD?"


"YA ALLAH! AKU SEORANG BUTA HURUF, AKU TIDAK BOLEH MEMBACA..."


"SIAPAKAH ENGKAU, WAHAI MUHAMMAD?"



"YA ALLAH! AKU TIDAK PUNYA APA-APA ..."

Friday, June 8, 2012

Andai Aku Lelaki Itu



Cinta. Aduh. Sebaik sahaja mendengar perkataan ini, pasti kalian tersenyum lebar sehingga mata yang bulat itu menajdi sepet, sehingga bulu mata atas dan bawah bertemu dan beramah mesra. Heh. Sudah menjadi fitrah naluri manusia untuk mencintai dan merasa perasaan dicintai. Waduh. Bagi menyambung bacaan di bawah, anda digalakkan memainkan music latar berelemenkan sentimental supaya kisah cinta yang bakal saya dedahkan ini mampu membuatkan hati anda berbunga-berbunga dan mampu menghasilkan pollen grain yang bemutu tinggi. Heh.

Air sungai mengalir deras. Ikan-ikan Solomon yang tersesat dari laut antartika melompat-lompat dipermukaan Sungai Kinabatngan. Suasana sekitar yang dilengkapi landskap flora dan fauna ala-ala susun atur Deko Bersama Eric menemani hati-hati yang mencari sesuatu yang hilang. Bubu dan pukat dilempar ke dasar air mengharapakn perhatian daripada makhluk Allah yang tinggal di sebalik permukaan air yang mengalir penuh syahdu itu.
Tiba-tiba.

Pernah di zaman Rasulullah saw, ada seorang Arab Badui meluru masuk ke tengah-tengah jamaah solat untuk mendekati Rasulullah saw.

Ketika baginda mendekati Rasulullah saw dan Rasulullah sudah bersiap sedia untuk menunaikan solat, orang itu bertanya :
“Bilakah kiamat akan berlaku?”
Nabi saw tidak menjawab kerana solat sudah hampir ditunaikan.

Ucapan takbir terucap dari mulut Rasulullah saw yang mulia, ayat demi ayat Al Qur’an baginda senandungkan, begitu bersungguh-sungguh, khusyuk dan penuh penghayatan. Titisan air mata berjatuhan dari pelupuk matanya yang jernih lagi mulia. Para sahabat pun tenggelam dalam limpahan kasih sayang Ilahi.
Apabila solat telah selesai dilaksanakan dengan lembut penuh wibawa, Rasulullah saw bersabda:
“Di manakah orang yang tadi bertanya tentang hari kiamat?”

Orang itu segera menjawab : Saya, wahai Rasulullah.
Gadgets By Spice Up Your Blog