Showing posts with label Tazkiyyah. Show all posts
Showing posts with label Tazkiyyah. Show all posts

Monday, August 10, 2015

Sujud Perhambaan



Sujudnya itu saat terindah solatnya. Posisi terdekat hamba kepada Tuhan. Menyembah seakan Allah bertakhta di hadapan. Dahi yang terjunjung di setiap bangun, mencium tanah penuh rendah, yang selayaknya pada posisi serendah-rendah alam.

Sejurus, tahiyyatnya pada kekhusyukan sama. Membisik melantun kalimah penuh berkah mengharap serta perhambaan syahadah. Shalawat keatas Muhammad saw sekeluarga serta Ibrahim alayhissalam.

Dan akhir solat dilengkap salam, menyempurna perhambaan dan menyambut lembut sapaan duniawi.

"Demi Allah, jika tidak kerana kalian beranggapan aku memanjangkan solat kerana takut mati, nescaya aku perpanjangkan lagi solatku.."

Dan sosok tubuh itu diheret keras ke kayu berpalang. Terikat dan seluruh masyarakat menyaksikan anggota-anggotanya terpotong.
[kredit]

"Relakah engkau digantikan Muhammad dan kamu selamat?"

Kudrat yang tersisa itu masih mampu menggagah bicara, "Demi Allah, aku tidak rela duduk selamat bersama anak isteri dan membiarkan Muhammad ditusuk duri."

Sejurus, pengamat-pengamat hukuman itu menjerit, "Bunuh dia!"

Dan tanah yang tadinya menyaksikan sujud sang hamba, menadah percikan darah sahabat itu.

Turut di barisan hadapan menyaksikan pembunuhan Khubaib adalah Said ibn Amir al-Jumahiy. Terkesan. Dan sering termimpi-mimpikan kejadian itu.

Dan umum tahu, Said ibn Amir al-Jumahiy memeluk Islam ekoran peristiwa itu, seterusnya menjadi gabenor Himsy yang sangat tawadduk dan zuhud.

Nyawa yang dikandung harus dikenderai, kalau ajal itu destinasinya; bukan sebaliknya.

Hidup para salihin salihat adalah perjalanan memilih cara terbaik untuk mati.
Kematian yang menggugah, atau hanya khabar yang terkubur sekadar kisah?


[Sujud Pehambaan]
Habiburrahim



Monday, September 8, 2014

BINARY : LAPAN


LAPAN

“Did you cry buckets over that fight?”

Wawa tersentap. Sushi di choptstick terjatuh. Dia menjulingkan mata. Mamat ni dah salah wiring ke hape? 

“Hell no!” Tipu. “Why did you bother asking?”

“Well, you guys seem to make a good couple.” Josiah mengacukan chopstick kearah Wawa.

“You do have the gut to get punched in the throat, aye?” Wawa mengepalkan penumbuk sambil diacukan ke arah Josiah.

“Whoa whoa..easy man. I thought you guys Muslims can’t lay a finger on others with different gender?”

“Whatever.” Wawa membalas malas.

“Don’t tell me you punched Ayen in the throat.” Josiah mengangkat kening.

“Wish I did”


***

Rasa terpukul tadi pagi melebih-lebih dari rasa nak memukul Ayen.

“Allah sekali-kali tidak menjadikan bagi seseorang dua buah hati dalam rongganya…”

[Al-Ahzab, 33 : 4]

Allah sekali-kali tidak menjadikan dua hati dalam satu rongga.

Hati kita hanya ada satu rongga. Dan mengisinya dengan kecintaan selain Allah  bermakna tiada lagi ruang untuk mengisi kecintaan selain kepada Allah. Masakan rongga yang satu boleh diisi dengan dua kecintaan yang berbeza.

Bilamana disebut-sebut tentang persahabatan, ataupun apa sekalipun yang berkaitan dengan hati, dimana letakkanya rasa persahabatan itu jika bukan di hati? Tapi, dimana letaknya Allah bila persahabatan itu dah memenuhi seluruh hati tersebut?

Demikianlah yang dikatakan persahabatan atas tali keimanan. Bermakna, dia seharusnya meletakkan Allah sebagai paksi persahabatan, dan kerana cinta kepada Allah membawa kepada teras persahabatan.

Dan the gravity of Allah denying that He created two hearts is so strong, proven dalam firmanNya, ‘Tidak sekali-kali’. Kata nafi yang sangat kuat.

Dah tu, mana letaknya Allah dalam hatinya kalau selalu bergaduh dengan Ayen?


[BINARY : LAPAN]

Saturday, May 3, 2014

Terhiris



Amarah itu pelik. Dendam itu jelek. Yang dimarah tak sakit. Yang memendam itu perit.
Bengkak hati itu penyebab lengan luka dek duri, asal keringat terenjat di dahi, pasal bahu tergalas kayu berduri.

Derap langkah deras walau terlihat berat. Terlihat jelek oleh jelingan para mata di sekitar jalanan. Tak kurang membisik. Tak terendahkan. Malah, yang lagi diendahkan adalah bara amarah yang tergenggam kemas dek hati. Diapi-api lagi sang mulut yang mencaci. Tergelorakan oleh jaringan prasangka dalam benak.

Julukan nama tak lagi melambang perilaku.

"Umm Jamil!" Satu suara memanggil. Terluat dengan keterlaluan mugkin. "Kemana kamu dengan duri-duri?"
Soalan yang terlebih tahu jawapannya. Sengaja empunya suara hendak menzahir jelek wanita itu.




Demi sesungguhnya! Kami akan menguji kamu dengan sedikit perasaan takut dan lapar, dan kekurangan dari harta benda dan jiwa serta hasil tanaman. Dan berilah khabar gembira kepada orang-orang yang sabar:



Huruf 'wau' pertama, menurut mufassirin, bukanlah 'athaf (penyambung), tapi merupakan qasam (sumpah).

"Wallahi lanabluwannakum";
Demi Allah, sungguh Kami menimpakan bala ujian keatas kalian.

Dalam erti kata lain, jelas daya yang berat pada kata ujian tersebut sehinggakan tersumpah oleh Allah sendiri, tidak akan terlepas dari pandanganNya jiwa-jiwa para hamba daripada ditimpakan ujian.



Ego terhiris dalam. Amarah lagikan terapi.

"Ini," Isteri Abu Lahab itu mendaras intonasi bersungut, "layak sebagai hiasan jalanan fajr Muhammad!"



Terikut firmanNya, bisyai'in min, yakni dengan sedikit.
Jiwa hamba wajarnya lebih tahu, pahit yang disumpahkan Allah itu hanya sedikit.

[Terhiris]
Kalaupun terteori bahagia itu berpanjangan,
Kenapa pelangi sendiri terhiris dek hujan?
Habiburrahim

Tuesday, March 4, 2014

Quad



“You look…” Wawa angkat wajah dari bekas polisterina ke wajah yang bertanya. Josiah meletakkan bekas plastik berhadapan dengan Wawa. “…different.”

“I take that as a compliment.” Wawa senyum segaris.

“Are you having some kind of celebration or something?” suasana di Quad semakin kecoh di kala tengahari ini.

“Nahh, I was just thinking of having some changes.”

“For worst or better?”

“It depends on the eye of the beholder.” Wawa jungkit bahu.

“I’d say, you look way better.”

Wawa senyum. See..dia orang sangat supportive.

Josiah menyelamkan garpu ke dalam mangkuk mee. Mee yang terlekat disuakan ke mulut.

“Why is it necessary for you guys to wear hijab anyway?” Josiah ikhlas bertanya. “No offense by the way.”

Wawa garu kepala dalam hati. “Well, I may not be the best one to say this, as I didn’t wear a hijab before.” Aduhhh… kalaulah Nadhiya ada... “I’ve come to realize the concept of hijab, it is actually one of the most fundamental aspects of women empowerment.”

Wawa masih memandang Josiah. Josiah masih juga menunggu penjelasan lanjutan.

“When I cover myself, I make it virtually impossible for people to judge me according to the way I look. I cannot be categorized because of my attractiveness or lack thereof.” Err..boleh terima ke mamat ni?

“For instance, people fancy those women with so-called perfect body, while those who are slightly unlucky are often expelled from the community. But I believe Islam has a better way to look at people. People can judge me from the way I want myself to be, from what I have to say, rather than how I look.” Tak ke sikit tak adil kalau dinilai dengan personaliti fisik?

Josiah angguk tanpa riak. Garpu lagi sekali disuap ke mulut. Mulutnya mengunyah lambat.

“Do you shower in that?”


[Quad]
Rather than playing the music
Why don't we try establishing a symphony instead?
Habiburrahim


Friday, February 21, 2014

Doa yang terlantun


Amarah Sang Tegas itu terkawal dek hikmahnya, tak terhambur terludah merata. Namun, langkahan kaki sedikit menghempas tempias amarah yang tertahan.


"Sekiranya aku berbuat demikian, begitulah juga apa yang dilakukan oleh orang yang besar hak engkau ke atasnya melebihi diri aku.”

"Siapakah dia?” "Saudara perempuanmu dan juga iparmu."


Bisik-bisik dari celahan rumah Bintu alKhattab itu meluapkan berang Sang Umar. Dia tahu benar, syair yang terdendang itu nyata syair Muhammad. Jengkel, Umar meluru ke dalam rumah adiknya.

"Apakah semuanya ini?"

Fatimah tahu benar, tindakan saudara lelakinya diluar batas waras akal. Masakan abangnya melulu dan bersandarkan emosi? Jujur, ada getar yang menyelinap hati kecilnya.

"Apakah engkau telah tinggalkan agama nenek moyangmu dan mengikut agama Muhammad?”

Dan bertubi-tubi soal selidik dihambur. Tidak cukup dengan itu, tangan kasar Sang Umar meramas rambut Fatimah. Ditampar berkali-kali memenangkan amarah semata.

Berkali iparnya menghalang, namun daya sang semut takkan pernah mampu menenteramkan angina sang gajah.

Jasad Fatimah yag terjelopok ditatap penuh marah. Cungap nafas terhembus, persis api radang yang berkeping-keping teruap.

Fatimah menggagahkan sokongan belakang tangan. Sebelah lagi tangan memegang kepala yang berdarah.  “Perbuatkanlah, kalau engkau sudah terpaksa.”

Malu. Runsing. Tindakannya melulu. Rasionalnya tercabar. Kisikan fitrah seorang abang Sang Umar singgah menggelayut. Perlahan, Umar melabuhkan riba, “Tunjukkanlah kitab itu kepada aku.”

“Kitab ini tak tersentuh mereka yang tidak bersih.”



Secara psikologikal, dapat dirumuskan afeksi para hati anak Adam itu terpengaruh dengan keadaan sekeliling.

Mari kita amati sebahagian daripada ayat yang menyentuh hati tegas Sang Umar,

“Ketika ia melihat api, lalu berkatalah ia kepada isterinya: "Berhentilah! Sesungguhnya aku ada melihat api semoga aku dapat membawa kepada kamu satu cucuhan daripadanya, atau aku dapat di tempat api itu: penunjuk jalan.
 Maka apabila ia sampai ke tempat api itu (kedengaran) ia diseru: ‘Wahai Musa! Sesungguhnya Aku Tuhanmu! Maka bukalah kasutmu, kerana engkau sekarang berada di Wadi Tuwa yang suci.
Dan Aku telah memilihmu menjadi Rasul maka dengarlah apa yang akan diwahyukan kepadamu. Sesungguhnya Akulah Allah; tiada tuhan melainkan Aku; oleh itu, sembahlah akan Daku, dan dirikanlah sembahyang untuk mengingati Daku.”
[Taha, 20 : 10-14]

Kisah Musa ini dekat dengan situasi yang dialami sahabat Rasulullah saw ini.

Jejak langkah Umar alKhattab ke rumah adiknya tidaklah terkebetulan sejajar dengan firman Allah akan jejak langkah Musa ke Lembah Tuwa.

Tidak cukup dengan itu, perintah al-Hikmah agar membuka sepatu kerana berada di lembah suci Tuwa bertepatan dengan suruhan adik kandungnya, Fatimah untuk menyucikan diri.

Akidah Islam membenarkan segala kejadian sebagai aturan Yang Maha Mengaturkan, bukan sekadar kebetulan. Dan hati getas Umar faham amat hakikat itu.

Aku telah memilihmu…”, terdeklamasi firmanNya, dan Umar mengerti langkahannya ke rumah Fatimah, tidak mungkin tidak, adalah kerana terpilinya dia sebagai Islam.

“Ya Allah muliakanlah Islam dengan salah satu dari dua Umar.”

Dan detik itu, doa yang terlantunkan menuju langit ini terkabul.

Setiap hati yang tersentuh itu, seharusnya memahami, detik hati terdetap dengan Islam, detik itu jua Allah telah memilih hati itu untuk memahami Islam.

“Aku telah memilihmu…”




“Di manakah Rasulullah saw?” lantunan intonasi Sang Tegas itu berganti amat.

“Baginda di rumah al-Arqam.”


[Doa yang terlantun]
Habiburrahim



Thursday, November 14, 2013

Paua Shell VI

Sid pandang peti sejuk macam nak tembus. Mata dikelip dua tiga kali sebelum memandang kembali peti sejuk.

Gila!
Kesepuluh jari dilarikan di celah-celah rambut, gaya meredakan pening. Mangkuk susu di tangan rasa semacam ringan, nak aja dilepaskan. Boleh pengsan kena heart attack ni.

Langkah seribu Sid berlari ke dalam bilik. Phone... phone...phone...





"Oih! Pagi lagi ni bro. Aku nak tidur ni."

"Oih! Emergency!"

"Awat?" Wong mengenyeh sebelah mata. Lain bebenor bunyi suara dari hujung talian pagi-pagi buta ni.

"Post-it note kat peti...."

"Kau melalut apa pagi-pagi buat ni?"

"Pa tulis note kat peti."

"So...?" Dah namanya ayah kau, memang habit dia kan tulis note kat peti?

"Mak aku..."

"Asal dengan mak kau?"

"Mak aku datang Auckland."






Yeah right! Pilihan terbaik. Auckland Zoo. Tak guna punya Wong.

Kekok habis. Matanya meliar ke sekeliling. Budak-budak. Kanak-kanak. Ibu. Bapa. Itu saja kot figura yang dia nampak. Berbelasan tahun tak keluar macam ni dengan Abah dan Ma. Skema perkara-perkara untuk dibuat bersama ibu bapa pun dia tak hafal.

Dipandangnya sekeliling lagi. Budak tu makan ais krim sambil tangan lagi sebelah dipimpin tangan si  ayah. Aku nak kena pimpin tangan Abah ke? Ke tangan Ma? Ais krim tu optional kan?

Mungkin sebab last time pergi zoo dengan Abah dan Ma masa di Malaysia belasan tahun lalu, buat dia sendiri rasa terpanggil untuk ke zoo hari ni. Entah kenapa. Walaupun idea asal adalah idea gila Wong.

Ma sampai semalam. Rehat di rumah seharian. Mati akal punya pasal, dia tembak Wong dengan bermacam soalan. Konklusi akhir, Wong cadangkan pergi Zoo.

Jadi, ke zoo lah mereka hari ini.

"Adiq..." Ma toleh ke Sid. Sid angkat muka.

"How's study?"

Sid buat muka selamba."Hmm..so so."

Senyap. Lagi. Ma pun tak banyak nak bunyi hari ni. Bukan macam hari-hari yang dilaluinya di Malaysia, keadaan Ma dengan Pa macam anjing dengan kucing.

Mereka berjalan melintasi reban ayam.

"How's Malaysia Ma?" Giliran Sid buka mulut. Lepas ni mesti Pa pula ambil giliran.

"Panas."

"Oh.

"Kampung mesti banyak ayam kan?" Pa cuba berceloteh. "Sini ayam pun nak dibuat pameran."

Ma sekadar mengangguk tersenyum. Celoteh Pa tak dibalas. Mati akal gamaknya.

Sid pun sekali melakar senyum. Okay lah, sekurang-kurangnya, anjing dah kucing dah cari jalan damai.

Alhamdulillah...






"Okay apa pergi Zoo. At least ada la benda nak dibuat. Besok lusa bawak la pergi MOTAT lak."

"Kau ingat Mak aku buat lawatan sambil belajar ke?"

Ketawa pecah di hujug talian. "Bawak perg Rotorua la. Takpun South Island."

"Itu aku arrange dengan ayah aku la kot nanti."

"So, how was it? Mak ayah kau dah okay belum?"

"Boleh la dikatakan okay. Awkward lagi, tapi we're gonna get there  tak lama lagi. Kau pun, doa-doakan la."

"InshaAllah, kawan aku selalu dalam doa aku."

"So,what're you up to this petang?"

"Nothing. Parent aku letih, dua-dua tengah berehat."

"Fancy a cuppa?"

"Sure. Gloria Jeans?"

"I'll pick you up at Britomart."



<bersambung ...>

[Paua Shell VI]
Mak
Ayah
Nak balik T.T
Habiburrahim



Sunday, September 8, 2013

A Message in a Bottle


Dahi putih itu lagi sekali rebah ke bumi salju itu. Dan empat dahi dibelakang turut sama mengikut. Lama mereka dalam keadaan sujud. Mata sepet yang memerhati dari jauh itu tak berkalih dari tadi. Tangan terus mencapai DSLR yang tergantung di tengkuk. Lensa dihalakan ke arah perempuan berlima itu di tengah-tengah gunung salji itu.

Snap! Dan sekeping gambar perempuan berlima itu sedang sujud terpampang di skrin DSLR. Cheng menarik senyum segaris. DSLR lagi dibawa ke mata, dihalakan lagi sekali ke lima bersahabat itu.
Angin yang tadi sepoi-sepoi bahasa menambah sedikit kelajuan. Cheng membetulkan skarf yang terlilit di tengkuk. Diketatkan skarf, angin sejuk tak tertahan. Sebaik jari telunjuk menekan butang shutter release, ketul kecil salji hinggap di atas lensa kamera. Angin mula membawa lembut ketul-ketul kecil salji hinggap di puncak Gunung Ruapehu tersebut. Dingin makin terasa ke tulang.

Ooooo...kayyy.. Time to go. Hot chocolate dibawa bersama, berjalan membelakangi lima sosok di tengah salju tersebut.


***

Estima biru itu melewati jalan yang terbentang luas. Pemandangan padang berbukit bukau berhiaskan biri-biri menjamu pandangan. Tenang.

Suasana dalam Estima biru itu sama tenang. Sunyi. Radio tak terpasang. Cheng di kerusi sebelah pemandu pun tak ada nak riuh-rendah membuka cerita. Wanjiq fokus memandu.

Cheng memandang ke kiri, melihat pemandangan hijau tipikal New Zealand. Kawanan biri-biri baru sahaja berlalu.

"Air mineral kat mana?" Buat sekelian lama, dari atas puncak gunung sampailah ke jalan ni, peti suara itu baru mengeluarkan suara.

"Beg hitam, kat belakang." Wanjiq membalas.

Cheng mencapai air mineral dari dalam beg. Diteguk seteguk dua, dan dihulurkan ke Wanjiq menawarkan. Wanjiq menggeleng.

"Hari tu ada orang bunuh diri kat Sapphire." Cheng buka cerita. Sapphire tu apartment sebelah rumah Wanjiq. "Jujur aku cakap, I couldnt put a word to reason his suicide."

Wanjiq sekadar mendengar, tak mencelah.

"But, I know how painful he felt. I know that feel, feeling jaded at the world and the only thing you could think of at that moment was to take a fire exit to your life." Cheng menyambung. "Aku pernah masuk bermacam agama. And if not because of you guys who have given me more than a pat on the back, aku dah bunuh diri hari tu."

Wanjiq masih belum mencelah. Mata masih pada jalan. Tapi, dia ingat jelas, saat Cheng cuba bunuh diri tempoh hari.

"Spill mate." Wanjiq meyakinkan.

Cheng memandang Wanjiq. "If god really exists, why does He allow pain?"

Senyap. Estima masih bergerak pada kadar 90km/h. Wanjiq tarik nafas dalam-dalam. "Problems, for me, ..." Stereng dipusing ke sebelah kanan. Estima memasuki simpang. "...are trials to make us nearer to Him. Klise, aku tahu, but truths always begin with cliche."

Puncak Whakapapa
Wanjiq memperlahan kereta sebaik mendekati lori dihadapannya. Cermin sisi dipandang sekilas. "Everything in this world is meant to have its own reason for existing. Biri-biri, gunung-ganang, salji, rerumput and even melukut di tepi gantang pun. Even our problems pun ada sebab untuk diturunkan ke atas kita." Lori dihadapannya dipotong.


"Aku tak rasa, segala macam benda; matahari, bulan bintang, gunung-ganang diciptakan hanya sebagai lukisan alam, sebagai hiasan kepada planet bumi ni. In fact, the purpose for their existence is far mightier than that. Bergantung kepada kita untuk sedar akan cantiknya tujuan sebenar penciptaan segala makhluk alam."

Pandangan Wanjiq tak beralih dari jalan, sementara Cheng setia mendengar.

"Take for example, a message in a bottle." Estima membelok ke kiri, memasuki simpang ke Palmerston North. "Some people might not recognize the bottle and walk by. Some might ponder upon the beauty of the bottle that they forget the message inside it. Tapi purpose sebenar bottle itu adalah mesej yang terkandung didalamnya. Same goes to God's creation. Cantik, tapi bukan sekadar hiasan alam. We must look beyond those lukisan alam, to see a far mightier beauty behind the screen; the Beauty of the Creator."

"Situasinya sama dengan segala macam masalah yang kita lalui. Problems, pain, despair and misfortune come and go. But we tend to forget to see through the bottles. And when we fail to solve the problem, we blame Him for not helping."

"Problems, too, are created for the purpose of getting us nearer to Him. Bilamana masalah datang menjengah, kita lari dari Dia walhal masalah itu sendiri diwujudkan semata-mata untuk merapatkan kita kepadaNya. At times of failure, do not get lost in despair. Look through it. Seek for the message inside the bottle. And you'll eventually witness how only The Creator of All Power can guide you through the problems."

Senyap kembali. Wanjiq menunggu respon dari Cheng, tapi Cheng sekadar mengalihkan pandangan ke luar tingkap.

Muslim...
...sangatlah teguh dengan pendirian agama. Cheng monolog sendiri-sendiri.
Kalau tak, tak adalah sejuk-sejuk pun still boleh solat kat atas salji tadi.


Mana tak terkejutnya, selesai saja salam kedua, nampak mamat ni bertenggek di sebelah dengan payung di tangan kiri.

"Sorry, saya ada satu je payung." Terus keluar bahasa Melayu, takut-takut diaorang seram tiba-tiba mamat out of nowhere buat gaya Romeo payungkan anak dara orang tengah-tengah orang solat. Malaysians kat sini kalau jumpa Malaysians memang rasa selamat sikit. Harapnyaa...

Liya masih kedu. Tambah dengan sejuk salji lagi, boleh beku lidah nak menjerit. Peti suara macam dah menggigil taknak berfungsi, nak duduk diam je.

Buat seketika, mata sepet tu merenung si mata bulat dengan senyum kapasiti voltan tinggi. Empat pasang mata di belakang pun turut sama memerhati si sepet tu. Cheng buat muka selamba. "Kalau saya ada lima tangan dan lima payung, mungkin saya boleh payungkan semua kot." Pilih kasih betul payungkan yang di depan. Tapi betul apa aku buat... Kan tengah rintik-rintik lembut salji, tambah dengan angin, jadi aku payungkan la salah seorang yang tengah solat ni. Salah ke?

"By the way, kenapa korang solat?"



"Wanjiq..." Salji puncak Ruapehu ditinggalkan, minda kembali ke dalam Estima biru.

"Yep..?"

"Kenapa korang solat?"


[A message in a bottle]
Life, as we know it, is a Shawshank prison 
For Hereafter is your ultimate freedom
Ingat nak buat novel
Guna modal ni
Tapi..
Hmm...
Habiburrahim

Sunday, August 4, 2013

Pharaoh



"Ma..."

Mama lambat-lambat mengangkat muka dari bubur di tangan.

"They don't want to move." Awin buat muka kesian. Kedua belah kaki cuba diangkat, riak wajah mempamerkan kesungguhan.

Ma diam. Sekadar melihat tepat ke anak mata Awin. Cuba untuk senyum walau mata sedaya menahan air mata.

Ruang katil itu terisi sunyi. Awin masih lagi mencuba sedaya mungkin menggerakkan kedua kakinya. Ma meletakkan mangkuk berisi bubur ke riba. Jemari dibawa melalui rerambut Awin, diusap lembut. Di hujung wad, katil di sebelah pintu baru sahaja terisi dengan pesakit yang baru sahaja digegaskan masuk. Doktor-doktor dan nurse mengerumuni pesakit. Kepalanya berdarah.

Masuk dua hari, rasanya dah beratus yang keluar masuk Hospital Lapangan Rabiatul Adawiyah ni. Kecederaan berat memang ramai. Sangat. Kecederaan ringan apatah lagi.

Dan kalau nak dikira, kecederaan tak kira usia, tak kira jantina. Lelaki, perempuan, tua, muda, mahupun kanak-kanak.

Ma melepas keluh berat. Awin lumpuh, kata doktor. Seumur hidup.

"Stupid legs!"

Rengek Awin membawa benak Ma kembali ke dalam wad.

"They'll get better soon, inshaAllah. Bagi kaki rehat." Jemari dibawa melalui rerambut anak kecil 4 tahun itu.

Tangan dibawa meraba kedua belah kaki. "I can't even feel my own leg." Nada dah berbaur keluh.

"No need to worry sayang. They're tired. That's all."

"Bila kaki Awin nak baik Ma?"

"Soon. Sabar kay? They've been doing everything for you all your life. They need some rest."

Awin masih belum berpuas hati. Dia menggeleng, resah.

"They just forgot how to do things. We'll help them remember soon, okay?" Senyum. Kelat.

...General Abdel Fattah El Sisi's vow to end the sit-in has targeted an emboldened and measurable segment of Egypt's political and civil societies that have thus far refused to blink.

Less than a month ago, General Sisi, was a professional soldier wearing his badges with deserved pride. Since his tamarrod -backed coup, he is  someone whose hands are now tainted with blood and his career is, as a result, tattered by the crude use of brute force against civilians...


"Ma...nanti kaki Awin dah baik, kita pergi Mekah lagi? Awin teringin."

"Air mata Ma yang tertahan jatuh juga. Now what El-Sisi?

-------------------------------------------------------------------------------

Jujur saya akui, banyak berita tentang Mesir yang saya terlepas pandang. Dan juga tentang Palestin, serta Syria dan mana-mana lagi tempat yang tidak terkecuali.

Saya kagum pada mereka-merka yang berjuang dalam jalan ini. Iman mereka terasuh hebat, hamasah mereka terbina kental dan ikhlas mereka tak teragukan.

Kalaulah saya berada di tempat mereka, apakah saya masih mengimani bahawasanya Allah itu Yang Maha Memelihara?
--------------------------------------------------------------------------------

[Pharaoh]
Sungai Nil sedang berdarah
Habiburrahim

Saya tak tahu tentang lumpuh. Saya tak tahu tentang Hospital Lapangan Rabiatul Adawiyah. Tapi harapnya point itu sampai.


Wednesday, July 31, 2013

Orang Yang Mempunyai PhD Dalam Usuluddin Juga Layak Untuk Masak Kuah Sardin

Seringkali, apabila ingin berkongsi tentang perkara yang baik, dan juga ilmu-ilmu yang baik, ataupun nasihat tentang perkara yang baik, kadang-kala terdapat suara sumbang yang akan menghalang niat suci dan murni kita itu. Sehinggakan kita kadang-kadang terasa seperti mahu berlari-lari anak kemudian bersembunyi di balik tiang kerana tak tahan dengan tohmahan dan tombakan daripada orang-orang sekeliling.

"Eh, hang ni dah la tak belajaq kat Mesiaq sana. Ada hati nak khabaq kat aku pasai solat."

"Kau ni engineer buat la gaya engineer. Nak belagak macam ostat pulak. Hak ptuih!"

"Berapa lama kau dah hidup bro? Aku lagi lama duduk bawah ketiak mak aku. Kau tak layak nak cerita kat aku pasal berdikari."

Dan macam-macam lagi kata-kata yang kurang lazat untuk dicerna di dalam jiwa raga. Sehinggakan kadang-kala kita termakan dengan provokasi daripada mereka dan terus sahaja bersetuju dan sain kontrak dengan mereka membuat akujanji bahawa kita tak akan menasihati atau berkongsi dengan mereka lagi tentang perkara-perkara kebaikan.

Temanku, ingatkah lagi As-Siddiq, Saidina Abu Bakr? Apabila sinar cahaya Islam memasuki jiwanya, dia serta merta mengislamkan 6 orang sahabat yang lain pada hari dia memeluk Islam juga. Waktu itu, Al-Quran berapa kerat sahaja yang sudah turun? Hadis? Hukum-hakam? Apa yang ada ketika itu hanyalah Tauhid dan Syahadah. Apabila fahamnya dia dengan Tauhid dan Syahadah, serta-merta disampaikan pada orang lain tentang apa yang difahami dan dirasainya.

Kita ini pula, perlu hafaz Quran baru boleh memberi peringatan. Study agama tinggi-tinggi baru boleh ingatkan tentang kebaikan. Menguasai hukum-hakam semua baru boleh bercakap tentang Islam. Sedangkan, banyak sahaja sahabat yang syahid ketika mereka masih belum tahu macam-macam. Iman mereka pula sangat-sangat solid dan mapan.

Sampaikanlah.

Sampaikanlah apa yang kita faham. Sampaikanlah apa yang kita tahu. Sampaikanlah apa yang kita rasa. Disamping itu, ingatlah bahawa kita ini insan. Insan itu memerlukan peringatan. Di saat kita lupa bahawa insan itu pelupa, di saat itulah kita rasa tidak perlu untuk memberi peringatan.  Apabila terlupa bahawa kita mudah lupa, bagaimana mahu beringat? Kita kadang-kala risau apabila ilmu itu kurang di dada. Tapi, mengapa mahu risau? Kita ini bukan sempurna. Banyak pula cacat celanya. Itu sebab kita memberi peringatan. Itu sebab kita menyeru ke arah kebaikan. Itu sebab kita berterusan tuntut ilmu hingga nyawa di pembaringan. Jika seseorang menyanyakan kita apa yang kita tidak tahu, cakap sahajalah kita perlu merujuk dahulu ustaz-ustaz berdekatan. Bukankah di dalam Al-Quran ada disebutkan,

“Kamu adalah sebaik-baik ummah yang diutuskan kepada manusia, kamu menyeru kepada ma’ruf dan mencegah daripada kemungkaran dan kamu beriman dengan Allah.”
‘Ali Imran: 110

Nah. Ayat ini tidak disebut bahawa sebaik-baik ummah itu ialah mereka yang sempurna tak ada cacat. Sebaik-baik ummah itu juga bukanlah yang suci dari dosa seperti malaikat. Tapi sebaik-baik ummah itu adalah mereka yang saling ingat-mengingat. Sebaik-baik ummah itu ialah mereka yang menyeru untuk taat.

Jadi, marilah kita sama-sama menyeru manusia untuk membuat kebaikan. Untuk minta orang buang sampah dalam tong sampah, perlukah untuk melemparkan nas dan hujah? Untuk minta orang basuh pinggan, perlukah untuk kita ada ilmu setinggi Gunung Tahan? Kalau kita nampak kesalahan yang common sense, tegur sahajalah kan? Tapi kalau ada nas dan hujah, boleh sahaja diberikan. Namun, ikutlah siapa yang kita tegurkan. Ada yang berkesan apabila dimarah, ada yang berkesan apabila berlemah lembut, ada yang berkesan jika diberikan nas Quran dan hadis, ada yang berkesan jika dikemukan hujah dan teori, ada yang berkesan apabila kita sering tunjukkan contoh, yang penting kita gunakan kebijaksaan kita untuk berhadapan dengan pelbagai ragam mereka yang bernama insan.

Kuah sardin oiiii... Sedap pekena waktu berbuka nanti. [Gambar]
Sebagaimana orang yang mempunyai PhD dalam Usuluddin layak memasak kuah sardin, begitu juga orang yang mempunyai PhD dalam Kejuruteraan layak untuk ajak kepada kebaikan.


*Sekadar membuat contoh untuk kasi sedap bunyinya. Hakikatnya, tidak kisahla PMR ke, SPM ke, Diploma, Degree, Master atau PhD dalam bidang apa-apa, semua orang layak untuk menyeru dan mengajak manusia untuk masuk ke SyurgaNya.
Gadgets By Spice Up Your Blog